Penyebab kotornya hati


Pagi ini dikala hatiku merasa galau akan urusan dunia yang tak ada habisnya, kucoba dengar MQFM Pagi, “sudah lama  rasanya aku tidak mendengar ilmu menjaga hati“..begitu pikirku(sedikit alay gapapa kan hehe…) . Begitu saya setel radio channel MQFM, terdengar suara Aa Gym sedang berceramah tentang Allah yang maha membolak-balikkan hati. Tapi bukan hal itu yang ingin saya tuliskan disini(karena begitu singkat), saya ingin menuliskan ceramah selanjutnya(dengan sedikit pengubahan), yakni penyebab kotornya hati oleh Ust. Fahruddin , semoga ilmu yang beliau sampaikan dapat  kita amalkan, berikut ulasannya….

Kebersihan hati adalah harta terbesar. Betapa tidak , selain hati yang bersih menjadi jalan mengenal Allah, hati yang bersih juga dapat menjadi (jalan) penuntun kita untuk terus berbuat baik.

Mengapa demikian?

Jika tubuh diandaikan sebuah kerajaan, maka hati adalah raja , sedangkan anggota tubuh lain (tangan, kaki, mata dan lain sebagainya ) adalah pasukan. Ketika raja memerintahkan “ pasukan serang daerah tersebut !! “, pasukan pun menyahut “siap raja !!” hal yang sama terjadi pada tubuh, ketika hati memerintahkan “mata , lakukan observasi mendalam ke perempuan cantik disana !”,  maka mata pun akan mematuhi perintah hati. Ketika hati memerintahkan “tangan , ambil Al-Quran dimeja itu dan mata, mulut baca dan hapalkan !”,  maka tangan dan mata serta mulut pun akan mematuhi perintah hati.
Nah dengan hati yang bersih kita akan cenderung untuk berbuat hal-hal yang disukai Allah sebagaimana hati yang kotor akan membuat kita cenderung untuk berbuat buruk. Maka penting sekali bagi kita untuk menjaga kebersihan hati, yakni dengan cara menghindari sebab-sebab kotornya hati, Apa saja itu?
Berikut sebab-sebab kotornya hati

1.       Melakukan dosa berkali-kali.
Jangan sampai terbenak dalam pikiran kita, “saya berbuat dosa berkali-kali pun tidak apa-apa, kan Allah maha mengampun”, yah memang sih Allah maha pengampun tapi dengan kita membiarkan diri kita berbuat maksiat berkali-kali  akan menyebabkan hati kita menjadi mati . Hati yang mati tidak akan peka dengan dosa, ia tidak akan merasakan penyesalan ketika melakukan dosa dan ini sangat berbahaya.

2.       Tidak mengamalkan Ilmu yang didapatkan.
Contohnya kita sudah mendapatkan ilmu bersedekah, tapi tidak kita amalkan karena takut miskin. Contoh lainnya kita sudah mengetahui keutamaan membaca Quran (pahala yang dikali sepuluh tiap satu huruf Al-quran ),  tapi tetap saja kita jarang membaca Quran. Hati kita pun akan menjadi kotor jika kita tidak mengamalkan ilmu yang sudah kita dapatkan.

3.       Beramal tidak ikhlas karena Allah.
Definisi ikhlas para ulama yakni “menyembunyikan kebaikan kita sebagaimana kita menyembunyikan keburukan kita…”, hal itu dilakukan jika kita beramal diketahui orang lain membuat kita tidak ikhlas, maka kita harus menyembunyikan amal kita, jika tidak, maka silahkan beramal dengan dilihat orang lain. Keikhalasan sangatlah penting ini karena Allah hanya menerima amal yang dilakukan karena diri-Nya.

4.       Kurang syukur kepada Allah.
Salah satunya tidak menggunakan nikmat Allah sesuai perintah Allah. Mata lebih sering digunakan untuk menonton hal-hal yang tidak penting dibanding tilawah, kaki lebih sering digunakan untuk jalan-jalan ke mall daripada ke majelis ilmu dan lain sebagainya.

5.       Tidak ridha dengan takdir Allah.
Kita ridha saja menjalani episode apapun yang telah ditetapkan oleh Allah . Jika kita tidak kaya, yah tidak apa-apa , miskin dan kaya sudah ada ketentuannya masing-masing, tidak mungkin semua orang menjadi kaya, kalau semuanya kaya siapa yang dapat peran petugas kebersihan, satpam dan lain sebagainya ? Semua sudah berbagi peran yang telah ditetapkan oleh Allah, tidak apa-apa kok, hidup didunia cuman sementara, jalani aja…

Seperti itulah ulasan Ust Fahruddin mengenai kiat menjaga kebersihan hati, semoga kita dapat terus berjuang untuk membersihkan hati dan menjaga kebersihannya hingga ajal menjemput kelak !! aamiin..

Referensi :
Kajian MQPagi di MQFM Bandung 4 januari 2013






Jangan bergantung kepada amal !

Diantara tanda sikap mengandalkan amal ialah berkurangnya harap kepada Allah tatkala khilaf
-          ibnu Atha’illah –


Sekilas ketika membaca kalimat ini, kita akan menarik kesimpulan bahwa “berarti  tidak usah beramal dong”, maka itu adalah kesimpulan yang SALAH. Pada kalimat tersebut, Ibnu Atha’illah tidak melarang kita untuk beramal tapi ia melarang kita untuk tidak bergantung kepada amal.

Karena orang-orang yang menggantungkan keselamatan diri mereka pada amal ibadah yang mereka lakukan (bukan kepada Allah secara murni), apabila mereka melakukan  maksiat dan dosa ,ia akan kehilangan harapan kepada Allah yang maha rahmat yang  akan memasukannya ke surga, menyelamatkannya dari azab, mewujudkan semua keinginannya.


عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ « لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِى كِتَابِهِ – هُوَ يَكْتُبُ عَلَى نَفْسِهِ ، وَهْوَ وَضْعٌ عِنْدَهُ
 عَلَى الْعَرْشِ – إِنَّ رَحْمَتِى تَغْلِبُ غَضَبِى
Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Tatkala Allah menciptakan makhluk-Nya, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang kitab itu terletak di sisi-Nya di atas ‘Arsy, “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku.
 (HR. Bukhari no. 7404 dan Muslim no. 2751)


عن أنس رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول  قال الله تعالى : يا بن ادم إنك ما دعوتني ورجوتني غفرت لك على ما كان ولا أبالي , يا بن ادم لو بلغت ذنوبك عنان السماء ثم استغفرتني غفرت لك , يا بن ادم إنك لو أتيتني بقراب الأرض خطايا ثم لقيتني لا تشرك بي شيئاً لأتيتك بقرابها مغفرة – رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula”.
(HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih)

Sedangkan bagi orang yang tidak bergantung kepada amalnya, apabila ia berbuat maksiat ia tidak akan putus asa akan rahmat Allah .Ketika ia melakukan ketaatan pun, ia tidak merasa bahwa segala daya dan upayanya lah yang melakukan ketaatan itu. Baginya , pelaku hakiki dari semua amal ibadah ialah Allah semata, sedangkan ia hanyalah obyek penampakan dari semua tindakan dan ketentuan Allah. Rasa takut dan harapnya dalam kondisi tetap dan seimbang. Maksiat tak pernah membuat ia putus asa akan rahmat Allah sebagaimana ketaatan pun tak menambah rasa harap kepada-Nya.

Melalui hikmah diatas, ibnu atha’illah ingin mendorong para peniti jalan menuju Allah agar menghindari sikap bergantung kepada selain Allah, termasuk bergantung pada amal ibadah.

Ingin menjadi peniti jalan menuju Allah?? Jangan bergantung kepada amal yah J.

Referensi :
Al-hikam  - yang diulas oleh Syeikh Abdullah Asy-Syarqawi
Kajian Hikam(selasa ba’da ashar) Fakutlas Teknik Unpas
http://agusjuhrimuhajir.wordpress.com/2013/03/16/syarah-hadits-arbain-ke-42/

Blogger news

Blogroll

Blogger templates

About